Dalam kehidupan sehari-hari, dunia lain di luar kehidupan kita sebagai manusia yang hidup di dunia nyata, mahluk halus tidak pernah lepas dari diri kita. Mahluk halus di sini bukanlah para malaekat atau para bidadari yang hidup di bahagia di sisi Allah. Tetapi mahluk astral yang hidup di sekitar kita tanpa bisa dilihat namun sering kita rasakan bahkan kita takutkan kalau tiba-tiba menampakkan dirinya kepada kita.
Pada dunia modern ini sering kita mendengar, berbicara, dan bahkan mengadakan seminar tentang mahluk halus. Demikian juga dalam media massa, mahluk halus sering menjadi bahan hiburan dalam acara infotaiment maupun cerita-cerita film horor dan juga karya sastra maupun novel. Tidak saja di negara-negara miskin dan terbelakang secara teknologi tetapi juga di negara - negara maju baik secara ekonomi maupun industri. Misalnya dalam film Ghost, Harry Potter, Six Senses, Ghostbuster, Pocong, Sundel Bolong, Nyai Roro Kidul, dan masih banyak lagi. Di Indonesia, bukan hanya rakyat jelata, para dukun, paranormal, pedagang, artis, pejabat, dan tokoh agama, bahkan tokoh politik pun ikut bicara. Masih hangat dalam benak kita bagaimana menjelang runtuhnya ‘kerajaan Suharto‘ di tahun 1997-1998 di Jawa Timur dan Jawa Barat terjadi peristiwa yang amat memiriskan dan sulit di terima dengan akal sehat, yakni pembunuhan para dukun santet serta para kiai di pesantren yang dianggap berseberangan dengan sistem politik saat itu. Selain itu peristiwa yang paling menggemparkan seluruh dunia adalah ‘ perang suku ‘ di Sampit, Kalimantan. Konon, pada peristiwa ini, para pelaku menggunakan jasa para mahluk halus ( nenek moyang mereka )!Siapakah dan di mana mereka berada ?
Pandangan setiap masyarakat maupun setiap kelompok tentunya dipengaruhi budaya setempat dan agama yang dianutnya. Namun secara umum keberadaan mahluk halus sungguh diakui dan mereka tinggal di sekitar kita. Di dalam dan di luar rumah atau gedung, di tempat sepi dan keramaian, di kegelapan dan di tempat yang terang benderang. Di tempat yang dianggap suci dan keramat maupun di tempat maksiat. Di hutan, sawah, lapangan, kebun, bahkan lautan.
Berdasarkan asal-usulnya, mereka ini terbagi dalam dua kelompok.
1. Pertama adalah mereka yang memang tercipta sebagai mahluk halus. Misalnya jin dan setan.
2. Ke dua adalah mahluk halus yang berasal dari roh manusia yang telah meninggal dunia. Kelompok ke dua ini ada dua macam.
1. Mahluk halus yang baik.
Dikatakan baik, karena mereka sering atau mau membantu manusia dalam melakukan perbuatan baik atau membantu manusia dalam bekerja, malah mau diajak bermain bersama dengan anak-anak.
Misalnya:
- Dahnyang Desa, arwah leluhur para pendiri desa atau yang babat alas ketika pertama kali desa didirikan. Boleh dikatakan mereka ini adalah The Founding Fathers of Kampoong.
- Kyai dan Nyi Puthut, mahluk halus yang membantu anak-anak menunggu sawahnya menjelang panen agar tidak diserang burung pipit dan manyar. Dengan doa-doa tertentu mahluk halus ini akan tinggal pada orang-orangan sawah. Jika banyak burung yang hinggap di bulir-bulir padi maka orang-orangan sawah ini akan bergerak dengan sendirinya sehingga burung akan takut dan terbang.
- Nini Thowok : sering dipanggil dan diajak ikut bermain dan menari oleh anak-anak pada saat bulan purnama. Untuk memanggilnya, selain dengan mantra tertentu biasanya dengan menyanyikan lagu Lir Ilir secara lembut dan mengalun seperti semilirnya angin yang lembut saat purnama.
- Prewangan, menemani orang dalam bekerja berat yang mengandalkan otot atau dalam perjalanan jauh.
2. Mahluk halus yang tidak baik dan jahat.
Dikatakan tidak baik dan jahat, karena mereka ini keberadaannya disebabkan oleh kematian yang tidak wajar atau ketika masih hidup mereka sering melakukan perbuatan yang melanggar hukum atau norma-norma kehidupan. Dan, ketika sudah meninggal, roh mereka tidak segera menuju Swargaloka sehingga dapat dipanggil dan diperalat manusia untuk melakukan kejahatan. Misalnya santet, tenung, mencuri, guna-guna, mencari kekayaan, dan hal-hal yang bersifat negatif. Selain itu mereka juga menggoda manusia dengan cara menampakkan diri dalam wujud tertentu sehingga orang yang melihat menjadi terkejut sehingga jatuh sakit atau mendapat celaka. Penampakan mereka selain untuk mohon bantuan manusia agar didoakan untuk segera dapat kembali ke Sang Ilahi, namun juga untuk menakuti karena dendam mereka kepada manusia. Termasuk dalam kelompok ini adalah Jelangkung, Gendruwo, Thuyul, Sundel Bolong, Pocong, dan Kemamang. Dalam dunia barat dikenal sosok vampire yang suka mengisap darah untuk keabadian hidupnya.
Struktur sosial mahluk halus
Ada pandangan bahwa mereka juga hidup dengan struktur yang sama seperti kita. Mempunyai pimpinan dan kerajaan atau sistem sosial. Misalnya Nyai Roro Kidul dengan kerajaannya di pantai selatan pulau Jawa. Para jin yang membantu Bandung Bondowoso membangun Candi Sewu dan para jin yang membantu Sangkuriang, juga para jin yang membantu Ki Bromo membuat danau di sekitar Gunung Bromo.
Hubungan sosial manusia dan mahluk halus.
Dalam masyarakat tradisional, mahluk halus merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, dalam arti bahwa mereka juga berasal dari para leluhur atau sanak saudara dan keluarga yang telah meninggal. Mereka juga dipercaya sebagai penghuni pertama sebelum manusia menempati daerah atau wilayah tersebut. Maka dari itu, sebelum mengadakan suatu hajatan ( perkawinan, sunatan, atau pertunjukan seni tradisional ) masyarakat selalu memberi sesaji di tempat-tempat yang dianggap keramat di mana dipercaya arwah leluhur dan Dahnyang Desa berada. Pemberian sesaji ini untuk minta ijin dan mengajak ikut serta dalam pesta tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar